www.aman.or.id
Friday, November 27, 2015
SALAM ADAT " ANAI LEU SITA"
Salam Adat di Mentawai " Anai Leu Sita". Maksud kalimat ini menyampaikan bahwa kita baru bertemu dan nantinya kita akan bersatu padu dalam suka maupun duka. Kata " Anai Leu Sita" merupakan bahasa Masyarakat Adat Mentawai Provinsi Sumatera Barat untuk menyapa orang atau saudara mewujudkan rasa kekeluargaan yang paling dalam serta menghormati orang yang baru kita kenal. Nah, dalam kalimat tersebut di atas bisa ditambahkan kata " Saraina " sehingga kalimatnya " Anai Leu Sita Saraina". Namun kata "Saraina" hanya menunjuk pada satu orang atau tunggal. Maka untuk penunjukan jamak kata "Saraina" menjadi "Sasaraina", sehingga kalimatnya " Anai Leu Sita Sasaraina" artinya Apa kabar Saudara-saudara. Nah yang lebih paten lagi adalah dengan memakai kata " Anai Leu Sita sasarainangku" artinya, apa kabar saudar-saudaraku. Semua kalimat diatas jawabannya " Maeruk" artinya, baik.
Bagi masyarakat Mentawai kata saraina diambil dari "sara" artinya satu, dan "ina" artinya ibu. Jika digabungkan pengertiannya menjadi "satu ibu". Artinya jika kita memakai kata itu kepada orang lain, maka kita menganggap orang lain itu saudara atau satu ibu demi persaudaraan kita dengan siapa saja.
Biasanya kata "Anai Leu Sita" digunakan pada saat kita dengan orang lain bertemu di jalan atau menyapa orang lewat surat. Namun kata " Anai Leu Sita Sasaraina" atau "Anai Leu Sita Sasarainangku" kata yang dipakai saat ada rapat atau pertemuan di rumah adat.
Itulah bahasa sapaan bagi masyarakat Adat di Kepulauan Mentawai.
SURA' SABEU ( Terima Kasih )
Oleh : Laurensius Sarogdok, SH
Penasehat Pemuda Adat Mentawai
Tuesday, October 20, 2015
Berita Puailiggoubat No 322 Tahun XIII
Pelaksanaan Deklarasi Pemuda Adat Mentawai oleh Pengurus Daerah Aliansi Masyarakat Adat Nusantara Mentawai.
Monday, October 19, 2015
Galeri Beranda
Dalam rangka pembahasan Ranperda Pengakuan masyarakat adat Mentawai yang dilaksanakan di Uma YCMM Jalan Mappaddegat.
Acara pada saat membahas tulisan tentang Punen Mentawai untuk dijadikan sebuah buku mengenai kebudayaan Mentawai
Pemuda Adat Mentawai sedang melaksanakan konsep perjuangan hak-hak masyarakat adat Mentawai juga hak individu sebagai Pemuda Adat Mentawai
Acara pada saat membahas tulisan tentang Punen Mentawai untuk dijadikan sebuah buku mengenai kebudayaan Mentawai
Pemuda Adat Mentawai sedang melaksanakan konsep perjuangan hak-hak masyarakat adat Mentawai juga hak individu sebagai Pemuda Adat Mentawai
Thursday, October 8, 2015
Sunday, October 4, 2015
Adat Yang Membesarkan
Sebelum Negara terbentuk masyarakat adat sudah ada dan hidup denganbudaya adatnya. Justru salah satu kriteria terbentuknya negara karena adanya rakyat yang beradat. Hampir seluruh lini kehidupan adat selalu tampil sebagai pengontrol diri pemiliknya, sejak dalam kandungan sibayi sudah menjalankan aturan adat melalui kedua orangtuanya, seperti tidak boleh menancapkankan kayu, tidak boleh potong ular dan lain sebaginya, sampai dewasa pun tetap adat tidak bisa ditawar dan sifatnya harus dijalankan.
Berkibarnya Bendera Pemuda Adat Mentawai
Pada tanggal 2 Oktober 2015, pemuda adat Mentawai tleah medeklarasikan visi dan misi juangnya di Uma Mappaddegat Kecamatan sipora Utara untuk berkarya menjadi pemuda adat dalam memperjuangkan hak-hak masyarakat adat Mentawai.Pemuda adat di Mentawai sudah memiliki banyak sejarah yang biasa disebut "TaSilainge samba TaSiokko untuk membantu perjuangan serta gerakan Uma. Mereka inilah tonggok Uma dalam mempertahankan Uma di Mentawai serta lingkungan alamnya. Pada tanggal 2 Oktober 2015 itu menjadi sebuah sejarah bagai Pemuda Adat Mentawai sebagai hari kebangkitan kembali "Tasilange samba Tasiokko" kasimaeruk.
Perjuangan pemuda adat tidak hanya hak-hak adat saja tapi juga pengembangan wawsan adat dan budaya pemuda adat sangat penting sehingga lahir dalam hati sanubari pemuda adat untuk lebih mencintai kebudayaan dan adat sehingga menimbulkan motivasi positif sepanjang sejarahnya.
Pemuda adat tidak hanya orang-orang yang telah mendeklarasikan diri sebagai pemuda adat Mentawai, melainkan orang-orang yang mencintai kebudayaan dan adat Mentawai, mengembangkannya kearah yang positif dan tidak berprasangka buruk bagi identitas sendiri.
Jiwa Pemuda adat adalah rela berkorban dan gotong royong untuk mendukung pembangunan ditengah-tengah masyarakat adat.
Subscribe to:
Posts (Atom)







