Friday, April 15, 2016

Siapakah Suku Mentawai Itu ? Dan Apa yang akan terjadi ?

Saya sengaja memberi judul di atas 'siapakah suku Mentawai itu', tetapi bukan melihat SARA melainkan saya disini memperjelas indentiti suku Mentawai di era gobalisasi saat terkini.

Mentawai juga suku Mentawai disebut 'Sabulungan', hal ini sebelum penamaan Mentawai atau kata orang Minang 'Mantaoi'. Saat itu tidak ada penamaan lain kecuali diambil dari karakter hidup suku Mentawai di zaman nenek moyang dahulu. Sebelum penjajahan Belanda Suku Mentawai sudah menempati sebuah pulau yaitu Pulau Siberut yang letaknya di daerah Simatalu bila'. Karena terjadi perslisihan akhirnya suku Mentawai terpecah dan berpencar mencari wilayah masing-masing.

Menurut paka pakar antropologi bahwa suku Mentawai itu berasal dari proto malay 10.000 tahun yang silam dengan berbagai analisis dan tindakan fakta dengan menghubungkan referensi-referensi yang bisa membuktikan bahwa suku Mentawai dari zaman neolitik. Itulah ilmu pengetahuan kecanggihannya kadang tidak bisa masuk dalam logika pada masyarakat awam. Dan itu bisa saja terbukti dengan cara mengkelompokkan suku-suku di dunia yang berasal dari proto malay atau diatero malay.

Dalam hal ini yang jelas Suku Mentawai merupakan suku kuno yang tidak mengenal tulisan sehingga dalam mensejarahkan suku dan kebudayaan hanya berdasarkan tutur saja. Kehidupan identitas suku Mentawai ketika itu sangat jelas sehingga terjalin kelompok suku yang saling berbaur dan bekerja sama. Mereka hidup dengan alam, damai dan bebas memanfaatkan SDA yang ada tanpa eksploitasi. Mereka punya kepercayaan "Arat Sabulungan" dengan kehidupan yang sakral. Ritual-ritual sering dilakukan ketika dalam setiap aktivitas mereka.

Namun disaat terkini (modern) suku Mentawai mulai terbuka. Generasinya sekarang mulai berbahasa suku lain karena supaya merasa lebih maju dan terpelajar atau banyak pergaulan. Di Mentawai sekarang sudah banyak suku-suku yang masuk, seperti Batak, Minangkabau, Buton, Kalimantan, Jawa dan lain sebagainya. Hal ini terjadi adanya niat suku lain untuk datang merantau di Mentawai dan kemudian adanya program pemerintan CPNS dan transmigrasi.

Suku Mentawai mulai termajinalkan dalam segi tempat, hak-hak karena minimnya SDM. Semakin banyak pembohongan yang datang ke Mentawai dengan mengambil peluang kurangnya SDM suku Mentawai, seperti munculnya perusahaan kayu ditanah hak wilayat suku Mentawai, pembentukan wilayah kecamatan di atas tanah suku Mentawai dan program lain dari pemerintah yang katanya memfasilitasi masyarakat dan lain sebagainya.

Kedepan hak kepemilikan wilayah suku Mentawai akan hilang secara lahan-per-lahan sehingga bagi siapa generasi muda yang tidak berpendidikan, maka akan menjadi korban atas ketidak adilan. Inilah salah satu cara untuk ketika semua hak suku Mentawai sudah habis dicaplok, namun generasinya masih bisa hidup dalam tingkat pendidikannya, karena bisa bekerja di instansi pemrintah atau NGO. Tetapi kalau sekarang itu sudah dicaplok semua hak Suku Mentawai, generasi Mentawai tidak ada yang siap.


Monday, April 11, 2016

“Arat Sabulungan”



                                                  Sebuah Pandangan Hidup

Dalam setiap tulisan saya, paling mendominasi lembaran saya adalah mengenai Arat Sabulungan. Saya sangat tertarik mempelajari dan mendalami Arat Sabulungan yang ada pada Suku Mentawai karena dengan  Arat Sabulungan kehidupan begitu harmonis dan tertata bersama  alam dan lingkungan sosial. Saya sangat tidak percaya mengapa nenek moyang Suku Mentawai mampu membuat dan memerankan konsep Arat Sabulungan 5000 tahun yang silam. Seperti yang pernah saya Tanya oleh para Sikerei di Kampung dusun Rokdok bahwa konsep Arat sabulungan itu sebenarnya tidak rumit, sangat tersusun begitu rapat (terstruktur). Konsep pertama adalah adanya kelompok manusia, kedua ada tempat tinggal, ketiga ada wilayah serta batas-batasnya (peruntukannya).

Konsep perta adanya manusia berfungsi sebagai dasar munculnya pola-pola pikir (budaya) untuk mencipta. Konsep kedua adanya tempat tinggal sebagai wujud kelompok suku terbentuknya suatu system. Konsep ketiga adanya wilayah serta batas-batasnya sebagai ruang lingkup beraktivitas dan berinteraksi. Inilah konsep lahirnya Arat Sabulungan yang kemudian diuraikan dengan adanya pantangan-pantangan yang membuat terciptanya sebuah kepercayaan. Dari keprcayaan inilah terbentuk sikap dan tindakan yang teratur dalam mengelolah kehidupan. Oleh karena itu dari ketiga konsep itulah memperoleh suatu pandangan keseluruhan sehingga melahirkan berbagai seni kehidupan menjadi satu buah bentuk kerangka filsafat.

Di dalam konsep Arat Sabulungan bahwa kehidupan itu dikelolah oleh sebuah kekuatan yang abstrak yang dikenal dengan nama ‘Ulau Manua’. Bagi suku Mentawai ‘Ulau Manua’ wajib ditakuti, dihargai dan dihormati karena setiap mahkluk yang ada diseantero bumi ini ada penjaganya yang berbentuk abstrak. Salah satu contohnya adalah setiap orang Mentawai melakukan aktivitasnya pertama sekali dilakukan ritual untuk menghormati penguasa alam supaya tidak terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan. Artinya agar setiap kegiatan selalu berkenan oleh penguasa alam.

Alam merupakan sumber dari segala kehidupan yang diperuntukan oleh sang penguasa alam. Makanya orang Mentawai tidak berani merusak alam secara tidak penting dan malahan dilakukan pengawetan alam dengan cara menanam pohon atau tanaman tua.